Hidup Nyaman dengan Kesempurnaan yang Tidak Sempurna


“Jika kesempurnaan sebagai motivasi maka ketidaksempurnaan sebagai investasi.”
Memang tidak ada manusia yang sempurna. Tetapi, bisakah ini dijadikan acuan dalam tindakan-tindakan kita untuk meraih suatu keberhasilan? Kita tentu setuju bahwa hakikat kemanusiaan adalah ketidaksempurnaan. Tetapi, benarkah tuntutan, perintah, atau ajakan untuk menjadi sempurna sama sekali tidak realistis?
Jika Anda bertanya pada saya—yang notebene sekarang masih menjadi karyawati swasta sambil mengerjakan bisnis online yang cemerlang yaitu bisnis "Luar biasa" Oriflame tentunya..., kenapa saya nyambi karena next time saya kerja tidak terus menerus ikut orang maka dari itu mulai dari sekarang menyiapkan untuk masa pensiun saya kelak dihari tua. Apakah kesempurnaan itu penting? Ya, bagi saya kesempurnaan itu penting sekaligus tidak perlu!
Penting, yaitu sebagai tujuan dari usaha-usaha kita. Coba bayangkan, jika kesempurnaan bukan tujuan dari usaha kita, kita akan setengah-setengah dalam menjalankannya. Bahkan, gampang meremehkan dengan alasan: “Ah, aku kan manusia, manusia itu tidak sempurna, wajar kalau aku salah lagi, salah lagi.” Malah, kita mungkin akan terjebak pada kesalahan yang sama karena tidak serius dalam belajar.
Apa jadinya jika pekerjaan saya sebagai karyawati itu tidak menjadikan kesempurnaan sebagai tujuan? Bukan tidak mungkin saya akan mengalami marahan dari Boss karena tidak memenuhi standar kerja yang beliau berikan.
Demikian juga dengan belajar menulis dan berbicara di depan umum. Bisa-bisa saya tidak serius dalam belajar karena tidak menjadikan kesempurnaan (nilai seratus) sebagai goal-nya. Saya yakin orang-orang luar biasa seperti penemu telepon, penemu lampu pijar, penemu mobil, pembangun Microsoft, dan lain sebagainya harus demikian berusahanya melakukan eksperimen demi mencapai goal-nya, yaitu kesempurnaan hasil temuannya,dan Saya adalah wanita biasa yg ingin menjadi luar biasa bersama Oriflame. Bagaimana dengan anda,....?!?
Tidak perlu. Kesempurnaan tidak perlu dijadikan beban. Apalagi merasa dikejar-kejar oleh tuntutan yang memang memberatkan itu. Bagaimana tidak berat, keahlian dan keberhasilan apa sih, yang tidak didahului oleh trial and error, coba-salah-coba lagi? Masih ada “lain kali” dan “yang akan datang” untuk memperbaikinya. Tidak perlu stres memikirkannya.
Sebagai pemula, jika kita terobsesi oleh kesempurnaan, bisa-bisa kita tidak bergerak ke mana-mana. Karena takut salah, takut malu, takut dicemooh, takut dinilai tidak bermutu, takut gagal, takut ditolak. Mudah menyalahkan sesuatu yang lain (mencari kambing hitam) yang sebenarnya adalah alasan untuk malu mengakui kelemahannya.
Bagi seseorang yang telah memiliki keahlian, jika orang ini terobsesi oleh kesempurnaan ia akan menjadi seorang pengkritik yang sinis, penilai yang “keji”, dan penghantam kesalahan orang lain karena tidak mencapai standar yang ia bayangkan. Secara psikologis, sebenarnya ini sangat menyiksa yang bersangkutan. Sangat merasa tidak nyaman karena harus marah dengan orang lain yang dianggapnya tidak sesuai standar. Juga merasa jengkel dan bosan dengan dirinya sendiri yang terbebani dengan tuntutan kesempurnaan.
Jika kesempurnaan sebagai motivasi maka ketidaksempurnaan sebagai investasi. Sebagai pendekatan hidup, panggilan kepada kesempurnaan cukuplah sebagai sumber motivasi untuk belajar serius demi meraih yang lebih baik dan lebih baik lagi. Meski kita tahu, sangat mustahil meraih kesempurnaan 100 persen.
Sebaliknya, ketidaksempurnaan dipahami sebagai investasi yang suatu saat diambil lagi untuk pembelajaran dan pemahaman agar kita terhindar dari kesalahan yang sama pada situasi yang sama pula. Melakukan kesalahan adalah wajar. Yang keterlaluan adalah melakukan kesalahan yang sama pada situasi yang mirip. Ini berarti ia tidak menginvestasikan kesalahannya sebagai pembelajaran, tetapi hanya membuang dan melupakannya. Sehingga, tak heran kesalahan yang sama pada situasi yang sama terulang kembali.
Kesempurnaan adalah tujuan dan ketidaksempurnaan adalah realitas. Usaha-usaha yang tidak memiliki tujuan menuju sempurna adalah semu. Dan, tidak mengakui ketidaksempurnaan sebagai realitas berarti menyalahi kodrat, yang memang dunia ini adalah ketidaksempurnaan, ketidakpastian, ketidakmapanan, penuh perubahan, dan persaingan. Maka, kita dituntut belajar untuk itu.
Hidup ini kaya dimensi. Mengambil yang satu dan meremehkan yang lain kiranya bukan cara yang bijaksana. Keseimbangan di antaranya dan tahu pemanfaatan masing-masing adalah kunci keefektifan dan kenyamanan kita dalam menjalani hidup.
HIDUP ITU PILIHAN ,…Dan saya memutuskan untuk memilih sukses bersama Oriflame. semua impian saya akan terwujud.

Nah,gimana? Seru kan artikelnya moga bermanfaat ya buat teman2,…Peluang bisnis oriflame emang sangat menjanjikan,tp tidak semua orang bisa ngebaca peluang itu.Ada juga yg udah gabung tp nggak jalanin dengan sepenuh hati,akhirnya berhenti di tengah jalan.

Ketika anda memfokuskan pikiran dan tindakan kepada apa yang ingin anda capai maka anda akan menjadi magnet yang menarik keinginan anda untuk jadi nyata.

Sukses Selalu :)
Ersihend

0 komentar:

Posting Komentar

tinggalkan pesan disini, thanks :)